Drrrrng
Drrring… handphoneku berbunyi membuyarkan pikiranku tentang hal-hal indah pada masa depanku. Ini mungkin keputusanku untuk tetap memperjuangkan kuliah sebelum aku melanjutkan ke jenjang pernikahan. Aku melihat kearah handphone, disana tertulisa ‘Diana Call’. Pikiranku langsung terbayang kepada seorang akhwat muda, cantik, dan aktif dalam organisasi. Cara perjilbabnya yang rapi dan cara bicaranya yang selalu menempatkan sesuai dengan tempatnya. Megeraskan suaranya ketika ingin mengundang semangat orang, dan merendahkannya ketika berbicara hal-hal yang bersifat pribadi. Pada umurnya yang kesekian ini, dia masih terlalu aktif dalam aktifitas kelajangannya. Entah alasan apa dia masih belum mengambil keputusan untuk membentuk suatu keluarga baru. Hmmm,,, jarang sekali dia menelpon aku, ada apa gerangan hari ini?
“Assalamualaikum syuaa” terdengar suaranya yang cukup lembut dan penuh aura kewanitaan yang sholehah.
“Waalaikum salam ukhti, ada apa? tumben nelpon.”
“To the point saja ya, kamu udah siap untuk memulai suatu keluarga baru yang di ridhoi Allah?” tanyanya langsung pada target pembicaraan.
“A..apa?”
Jantungku berdetak kencang. wah,,, apa maksut pertanyaannya ini? apakah dia sekarang sudah mengambil keputusan untuk membentuk suatu keluarga baru? dan dia telah memilih aku sebagai orang yang beruntung itu? ini akan menjadi suatu kebahagiaan tersendiri untuk aku. Eits,, tapi tunggu ini artinya Hendar akan sakit hati kepada aku. Karena dari dulu dia sudah menyimpan perasaan begitu dalam kepada Diana, seandainya Hendra tidak pernah bercerita tentang perasaannya kepada Diana kepadaku, mungkin saat ini aku sudah mengambil keputuan untuk menyuntingnya. Tapi karena aku sangat menghargai seorang sahabat kecilku, dan dilain pihak sebagai guru hidupku, aku pun tidak mampu untuk melukai persaanya. Dia pernah bilang. ‘begitu kuliahku selesai, aku akan segera melamar Diana’, dan itu tinggal 6 bulan dari sekarang.
Jadi apa arti pertanyaan Diana? aku harap apa yang aku pikirkan aku inginkan, dan aku takuti itu tidak terjadi.
“Ia, saya punya seorang teman, yang udah siap untuk membentuk suatu keluarga untuk menyempurnakan agamanya. Dia memang sudah mencobanya beberapa kali, tapi mungkin karena belum jodoh, sapai saat ini belum juga ada yang cocok dengan dia.”
“Oooh,,,” hatiku sedikit tergores kecil, disaping perasaan lega yang cukup dalam diantara goresan itu. Jika dia berkata seperti itu, itu artinya aku tidak punya harapan sama sekali untuk mendapatkannya. Aku memang menyimpan perasaan juga terhadapnya. Tapi aku tidak membenarkan perasaan ini terhadapnya.
“Ya.. kalau kamu berniat untuk membantu seorang akhwat untuk menyempurnakan agamanya dengan ikhlas, tentunya Allah akan sangat menghargai keputusan itu”
“I… ia”
Selalu seperti itu, apa yang disampaikannya selalu berupa tawaran yang menggiurkan dipandanganku. Tapi apa dia benar-benar tahu siapa sebenarnya orang yang paling aku inginkan. yah… tidak mungkin, dia tidak mungkin tahu soal itu.
“Kalau kamu mau, mungkin kalian bisa bertukar data diri”
“Oh,,, ia, gimana kalau langsung ketemu saja.”
“Hmm, boleh, besok sore di masjid At-Taqwa ya, sehabis sholat ashar”
“Insyallah…”
“Ya udah, sukron akhi, wassalamualaikum”
“Waalaikum salam”
Sedikit tersentak dengan keputusanku hari ini. Apa aku benar-benar sudah siap membentuk suatu keluarga baru? apa aku benar-benar sudah siap memberikan waktuku untuk keluarga? ah, ini kan baru proses persiapan taa’ruf. Belum mulai juga, tidak perlu takut lah. Lagian sebentar lagi aku sudah mendapatkan gelar S1. Dan itu artinya aku tidak perlu menunggu apa-apa lagi, tinggal mencari orang yang beruntung dan berangkat menyempurnakan agama. Gumamku dalam hati.
Hari ini terlewatkan begitu cepat. Perasaanku mulai tak menentu. Entah takut, atau belum siap, atau perasaan-perasaan lainnya yang semakin membuat aku tidak ingin melewati hari ini. Uh,,, seandainya kehidupan ini adalah film dalam DVD, mungkin aku akan langsung skip dalam scane ini, dan apapun yang terjadi pada scane berikutnya aku mungkin siap menerimanya.
Tapi sayang, semuanya harus juga aku lewati. Keputusan telah aku ambil, bahwa hari ini aku akan langsung bertemu dengan seseorang yang mungkin akan aku putuskan sebagai orang yang setiap bangun pagi ada disampingku. Atau mungkin dia bukan yang beruntung itu bisa mendapatkanku. sombongku sendiri dalam hati. Mencoba mencairkan suasana hatiku sendiri. Walaupun aku tahu itu sebenarnya tidak terlalu membantu.
Sholat juhur pun tiba. Aku bersujut lama dihadapan Nya, mencoba meminta petunjuk yang paling tepat untukku. “Ya Allah, berikanlah aku ilmu, berikan aku keberanian untuk mengambil keputusan, Berikan aku keputusan yang paling tepat untuk masa depanku, dan masa depan seorang akhwat yang ada disana. Ya Allah, aku tahu ini merupakan satu jalan untuk penyempurnaan agamaku, aku tahu ini adalah suatu perintahmu untuk melepaskan kelajanganku. Jika dia memang orangnya, maka berikan aku keberanian untuk memutuskan dia adalah orangnya. Jika dia bukan orangnya maka berikan aku keberanian dan kemampuan merangkai kata yang paling tepat untuk membujuknya, Amin”.
Setengah jam sebelum ashar tiba, aku sudah siap didalam masjid At-Taqwa. Tempat yang dijanjikan Diana. Aku melihat sekeliling, belum ada tanda-tanda Diana ada disekitar sini.
Dak… jantungku berdetak seiring dengan suara beduk ashar disamping masjid ini. Aku masih mencoba menatap di sekeliling masjid, tapi belum juga aku bisa melihat bayangan Diana disana.
“Hah,,, mungkin mereka sudah masuk kedalam hijap akhwat” gumamku sendiri dalam hati. Berjalan perlahan kearah tempat pengambilan air wudhu. Terasa sejuk membasahi wajah yang dari tadi disengat matahari tanpa ampun. Wudhu kali ini terasa berbeda, terasa lebih sejuk, terasa lebih indah. Terasa lebih, eee, yah, lebih segalanya. Mungkin aku sedang jatuh cinta, hehe,, jatuh cinta pada orang yang tidak aku ketahui.
Sholat ashar akan segera dimulai, seorang pria dengan tubuh tidak terlalu besar, mengangkatkan tangannya setinggi telinga. Jidatnya terlihat tanda menghitam, qomat dikumandangkan. Aku melirik sesekali kearah hijab akhwat. Berharap aku dapat melihat sosok Diana dari balik hijap itu. Tapi kosong. Sholat ashar dimulai. Entah kenapa pikiranku masih saja terbang bersama sesuatu yang akan aku alami beberapa saat lagi. Iya, ini tidak benar, aku tidak seharusnya memikirkan hal-hal itu disaat aku sedang menghadap Tuhanku.
“Syuaa”
Terdengar suara dari belakangku, sangat tidak asing. Ia, itu adalah suara khas Diana,
“Assalamualaikum akhi”
“Walaikum salam”
Seorang wanita, cantik, Diana namanya. Orang yang sangat beruntunglah yang bisa menjadi suaminya nanti. Hah, Hendra adalah orangnya. hehe,,, lemasku dalam hati. Disampingnya berdiri seorang akhwat menundukan wajahnya. Penampilannya begitu rapi, alis matanya melengkung rapi, bibirnya yang tipis membentuk wajah yang semakin indah dipandang mata. Dia cantik, pembawaannya ayu, pipinya memerah entah malu bertemu seseorang yang mungkin akan menjadi pasangannya seumur hidup atau entah kenapa. Aku tidak terlalu memperdulikan hal itu. Sungguh, dia cantik. Ya Allah, Engkau pasti sedang bahagia ketika menciptakan wanita ini.
Sekilas terlihat wanita itu jauh lebih cantik dibandingkan Diana, entah karena perasaanku yang sudah terkunci akan dia, atau memang ini adalah petunjuk dari yang Maha Memutuskan.
Dia berjalan pelan kedalam Masjid, sementara aku dan Diana masih tertinggal diluar Masjid.
“Sudah ada beberapa orang yang kemarin taa’ruf dengan dia. Tapi sayang sampai saat ini belum ada yang benar-benar sehati” Jelas Diana.
“Ooh, tapi dia memang udah niat merit kan?”
“Ia, katanya dia akan ikhlas dengan siapa pun yang akan menjadi suaminya nanti”
“Baguslah kalau begitu. Jadi orang-orang yang pernah taa’ruf dengan dia? bukan dia yang menolak kan?”
“Hiyah, dari yang aku tahu sih bukan, pada akhirnya si ikhwan juga yang memutuskan, entah dengan alasan apa aku tidak terlalu tahu. yang jelas kadang alasan mereka tuh ga masuk akal”
“Oh gitu?”
“Ia”
Aku duduk tepat didepan wanita yang sampai detik ini aku belum tahu namanya itu. Diana duduk diantar kita berdua. Hingga membentuk seuatu lingkaran segi tiga.
“Din, kenalin, ini Syuaa. Syuaa, ini Adinda” Diana memperkenalkan aku dengan nya.
Mukanya tertekun kebawah, wajahnya memerah, menujukan dia malu. Perangainya sangat cantik. Sedikit bingung, bagaimana mungkin orang-orang sebelum aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan dengannya?
“Hai din”
“Hai Syuaa”
“Din, ini yang namanya Syuaa, teman sekolah aku dulu, orangnya terbuka kok, buktiin aja” Diana membuka pembicaraan, dia selalu pintar dalam mencairkan suasanya, membuka pembicaraan, dan selalu punya ide untuk melancarkan tujuannya.
“Syuaa,,,” suara Adinda terdengar merdu, membuat aku merasa sebagai satu-satunya orang paling beruntung di dunia ini, bisa mendapatkan kesempatan untuk taa’ruf dengan dia. Aku menatap wajahnya, tapi dia tetap pada posisi menekukkan wajahnya.
“Aku… mo nanya sedikit tentang kamu, boleh ya”
“Iiiya’,,,” jawabku pelan.
“Nama lengkap kamu?”
“Syuaa ash shiraata”
“Kuliah?”
“Hmm ia, sambil kerja juga.”
“Dimana?”
“Kuliah di Universitas Terbuka, dan kerja di PT Alintakisba”
“Udah pernah pacaran? maaf”
“Yang resmi ato yang enggak?”
“Bedanya?”
“Resmi brarti kedua cowok dan cewek mengakuinya, klo yang enggak resmi ya… kayak TTM, ato hubungan tanpa status gitu, atau mungkin si cewek bilang ama temennya kalau saya adalah cowoknya tapi ternyata kita emang belum pernah jadian gitu” Candaku sediki ingin mencairkan suasana yang terasa formal banget.
“Oooh, klo yang resmi?”
“Ya… kalau enggak salah dua kali”
“Kalo yang enggak resmi?”
“Enggak keitung kalin. hehhee,,,,”
“Ohh…” tunduknya menampakan wajah sedikit kecewa.
Tidak ada niat sedikitpun untuk membuatnya kecewa, aku hanya berusaha jujur seperti apa aku adanya. Karena yang aku tahu ini adalah suatu proses perkenalan yang akan menuju pernikahan.
“Kamu pernah hubungan sex?”
“eee,, tolong lebih di spesifikasi arti dari sex”
“Ya,,, hubungan suami istri gitu!” tanyanya tanpa ragu.
“Belum.”
“Kenapa? kamu udah pernah pacaran kan”
“Yah, karena itu komitmen saya pribadi”
“Ooh, kalau mencium bibir lawan jenis?”
“Belum pernah”
“Kenapa?”
“Karena itu komitmen pribadi”
“Kalau menyentuh dada lawan jenis kamu?”
Ughh, pertanyaanya mulai membuat aku merasa risih, tapi tidak apalah. Mungkin dia hanya ingin tahu kepribadianku lebih dalam. Dan jawabanku selalu berusaha sejujur mungkin.
“Secara sengaja, hmm enggak”
“Maksutnya?”
“Yah paling kalau lagi di bonceng bawa motor atau hal-hal lainnya”
“Hal-hal lainnya maksutnya?”
“Yah, seperti kalau lagi nonton di bioskop trus dia ngejerit karena ketakutan, dan dia meluk lenganku, hehhee” ketawa kecilku.
Diana masih terdiam menikmati pembicaraan kami yang aku rasa mulai membosankan ini karena ngebahas hal-hal yang terkadang terlalu pribadi.
“Kalau sex sendiri?”
“Hmm ia, sebagai cowok normal”
“Kamu sudah pernah di tolak sebelumnya pas nembak cewek?”
“Yah, pernah juga”
“Apa yang kamu lihat dari cewek?”
“Semuanya, fisik, cara bicara, dan kelakuan”
Adinda menulis sesuatu dikertanya, dan menunjukan kepada Diana. Diana terliat tersenyum sendiri. Aku tidak terlalu mengerti apa yang ditulis Adinda dikertas itu, walaupun sedikit penasaran juga. Apakah mereka mentertawai jawabanku yang terlalu polos, atau mungkin ada arti-arti lain didalamnya? oh tidak, semega itu bukan suatu ejekan terhadapku.
“Yah, sudah, aku sudah cukup atas pertanyaanku, silahkan kamu bertanya tentang aku” silah Adinda kepadaku.
Sedikit bingung apa yang harus aku tanyakan. Dari awal aku sudah memutuskan untuk melanjutkan proses taa’ruf ketingkat yang lebih serius. Tapi untuk sekedar memenuhi permintaanya, maka aku mulai memberikan pertanyaan yang terpikir olehku.
“Sebelum kamu brangkat kesini, kamu udah angkat jemuran belum? hehee….”
Aku tahu, ini mungkin pertanyaan yang paling bodoh yang pernah ditanyakan seorang pria kepada wanita pada saat perkenalan pertama mereka menuju tingkat yang lebih serius. Tapi aku tidak terlalu perduli, aku hanya ingin dia menjawab apa adaya, yang tidak terlalu memberatkannya. Diana tersenyum kecil mendengar pertanyaanku, sementara Adinda tidak terlihat menunjukan wajah senyum sedikitpun mendengar sedikit joke ku. Apakah aku salah mengajukan pertanyaan? atau apakah bahasaku kurang baik?
“Syuaa,,,” Adinda mengawali pembicaraan, menarik nafas panjang, dan siap berbicara.
“Kita ini dalam proses perkenalan menuju taa’ruf untuk menyempurnakan agama kita sesuai yang diperintahkan Allah, bukankan seharusnya kamu menggunakan kesempatan ini untuk menanyakan hal-hal yang penting saja. Agar kamu semakin kenal aku, dan tidak salah dalam mengambil keputusan nantinya. Kenapa kamu harus membuang-buang waktu kita berteduh di rumah Allah kalau hanya ingin menanyakan hal-hal sekecil itu?”
Benar apa yang aku takutkan, ternyata pertanyaanku sedikit menyinggungnya. Dan sepertinya dia tidak suka dengan pertanyaan itu. Diana tertegun, tidak berkata apa-apa, dan hanya diam diantar kami berdua.
“Oh,,, maaf. Kalau begitu, aku akan berusaha mencari pertanyaan yang menurut kamu penting” sambil menegaskan diantara kata ‘menurut kamu penting’ nya. Entah kenapa tiba-tiba emosiku keluar dengan sikapnya. Mungkin aku memang bukan orang yang sanggup membendung emosi, dan mungkin itu tidak baik buat kelangsungan keluarga kami nanti.
“Jadi, aku orang keberapa?” tanyaku berusaha mencari pertanyaan yang mungkin menurut dia lebih penting daripada sekedar menanyakan sudahkah dia angkat jemuran sebelum brangkat kesini.
“Hehehe,, itu rahasia pribadi!” senyumnya sambil mengangkatkan punggungnya. Yah, jawaban yang cukup simpel.
“Sudah, pertanyaanku sudah segitu!”
“Udah? segitu doang?” tanyanya seakan belum puas ditanyai.
“Ia, aku sudah mendapatkan apa yang aku butuhkan”
Diana tersenyum kecil, sambil menatap kearahku, dan kembali menatap kearah Adinda.
“Ok, jadi proses perkenalan awal sudah selesai, selanjutnya? apakah mau dilanjutkan ke dalam proses taa’ruf yang lebih serius atau tidak?”
Diana menatap kearahku, mungkin itu artinya dia menanyakan keputusanku. Dia tidak menanyakan kepada Andinda, mungkin dia sudah tahu jawabannya dari kertas yang ditulis oleh Adinda tadi.
Tiba-tiba, entah pikiran dari mana.
“Sepertinya aku memutuskan untuk menghentikan proses taa’ruf ini disini, tidak perlu dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius”
Aku menatap Diana, dia terlihat terkejut, begitu juga Adinda, matanya memerah, bibir nya bergetar, tangannya meremas erat pulpen hijau ditangannya. Semakin lama, mata Adinda semakin berair, dan seakan tak sanggup menahan bendungan itu, setetes air mata melewati pipinya yang lembut memutih. Diana masih tak melewatkan pandangannya kepadaku, seakan tidak puas dengan jawabanku itu. Matanya seakan bertanya “Kenapa kamu bisa sekejam itu?”
Tanpa menunggu pertanyaan dari mereka.
“Yah, itu adalah jawabanku. dan itu keputusan terakhirku”
Aku tahu, ini merupakan keputusan yang sedikit kasar, dan aku memang tidak bisa merangkai kata yang indah agar Adinda tidak merasa tersakiti. Tapi aku pikir keputusan ini merupakan keputusan yang paling tepat untukku kali ini.
Bibir Adinda bergetar, dalam sedaknya dia memaksakan bertanya.
“Kenapa?”
“Adinda, yah, mungkin karena kita memang sudah tidak cocok”
Adinda menyela air matanya dengan ujung jilbab putih yang dipakainya. Aku sungguh tersentuh dengan adegan ini, tapi aku sudah mengambil keputusan, dan aku ingin tetap mempertahankan keputusan ini. Waktu terasa berputar sangat lama. Aku tidak lagi berani menatap kearah Adinda, dan Diana. Aku bahkan tidak lagi berani menatap kaca jendela mesjid yang menggambarkan diriku sendiri disana.
Dengan sedak tangis Adindan.
“Iiiya, aku terima keputusan kamu. Tapi tolong beritahu aku untuk pelajaranku dimasa yang akan datang agar aku tidak melakukan kesalahan jika itu adalah kesalahanku. Apa yang salah dari aku syuaa?”
Aku sedikit bingung, sebenarnya tidak ada yang salah dari dia. Dan tidak ada yang benar-benar perlu dipersalahkan dari dia. Aku hanya merasa ini merupakan keputusanku, karena mungkin, uhh,, aku sendiri tidak terlalu tahu kenapa aku bisa mengambil keputusan itu. Aku hanya merasa dia bukan orang yang tepat untukku. Tapi apa yang harus aku katakan?
“Adinda, kamu belum ikhlas menerima si calon suami apa adanya, itu yang membuat kamu selalu mendapat kata putus dari setiap orang yang mencoba untuk mendekati kamu”
“Aku ikhlas, aku tidak memilih siapa-siapa”
“Ia, kamu ikhlas, tapi kamu tidak menujukan kalau kamu ikhlas”
“Kenapa?” Adinda tetap terus ingin tahu tentang pendapatku.
Diana juga menunjukan muka yang sama, mungkin dia juga ingin menanyakan hal itu. dan mungkin dia juga ingin mendapat pelajaran dari kejadian ini, agar suatu saat nanti dia tidak mengalami nasip yang sama.
“Kamu ikhlas, bagaimana kamu bilang kalau kamu ikhlas, sementar, sebelum taa’ruf pun kamu sudah menanyakan pertanyaan yang begitu banyaknya. Dan entah bagaimana, kamu melakukan perhitungan atas pengamatan kamu sendiri tentang pria yang datang kepada kamu. Kamu mulai menghitung dari pertanyaan-pertanyaan yang kamu berikan kepada kami”
Hening
“Semantara aku, bahkan dua pertanyaan yang aku berikan, aku tidak mendapatkan satu jawabanpun atas dua pertanyaan itu.”
“Tapi…” patah Adinda ditengah seriusku menjelaskan kepadanya apa yang tiba-tiba terpikir olehku.
“Hal kecil, yang aku tanyakan, sudahkah kamu angkat jemuran sebelum kesini? iya, ini mungkin pertanyaan kecil buat kamu, tapi apakah ini juga kecil buat aku yang menanyakan? begitu susahnya kah menjawab sudah atau tidak?”
Mereka berdua terdiam mendengarkan ocehanku yang begitu panjangnya. Aku masih menikmati ocehan-ocehan aneh ini. entah pikiran dari mana, atau mungkin juga bawaan emosi aku sendiri tidak terlalu memperdulikannya.
“Uang limaratus rupiah mungkin buat kamu enggak ada gunanya, bahkan mungkin tercuci dibaju kamu dan kamu baru sadar kalau uang itu pernah ada ketika kamu mengenakan pakaian itu lagi, tapi apa kamu pernah melihat orang-orang dipinggir jalan sana, yang membutuhkan pengorbanan harga diri, dan rasa malu demi mendapatkan uang limaratus rupiah sambil berharap siang ini mereka bisa makan dengan kenyang setelah dari pagi menahan rasa lapar? itu adalah uang kecil buat kamu, tapi tidak buat mereka. tidak buat orang lain, hal kecil untuk kamu mungkin sangat besar buat orang lain”
Adinda tertekun rasa bersalah, dia tidak berkata apa-apa terlihat betul diwajahnya rasa menyesal, aku sedikit kasian melihat wanita secantik itu tertekun bersalah seperti itu. Ah tapi biarlah, biar ini menjadi pelajaran tambahan buat dia.
“Seperti itu juga buat aku, untuk kamu hal jemuran mungkin hal yang tidak terlalu penting untuk ditanyakan. Tapi untuk aku? itu bisa jadi hal besar. Aku hanya takut kalau kamu kepikiran jemuran kamu dirumah jika ketika aku menanyakan tentang kamu tiba-tiba diluar sana hujan turun”
“Ia…” Terdengar kecil suara Adinda.
“Terus pertanyaan kedua, aku orang yang keberapa. Kamu yang meminta untuk menanyakan hal-hal yang lebih serius, tapi ketika aku menanyakan satu hal itu, tapi kamu tetap tidak mau menjawabnya, mungkin kamu malu, atau apalah itu. Tapi apa aku pernah merahasiakan, atau menolak untuk menjawab pertanyaan kamu yang terdengar sangat rahasia sekalipun. Aku tetap menjawab dengan apa kondisiku sebenarnya. Karena aku tahu, ini adalah proses perkenalan, dimana jika direstui Allah, maka kita akan menjalaninya seumur hidup”
Diana tertegun diam, dan Adinda juga. Mereka berdua seperti seorang anak yang baru dimarahi oleh orang tuanya. Tidak ada suara, dan tidak ada yang berani melawan.
Aku berdiri, mulai beranjak meninggalkan mereka tanpa sepatah katapu. Berharap Adinda mengerti apa yang dia lakukan selama ini, dan kenapa dia mengalami kegagalan dalam proses taa’ruf berulang kali. Hufff, hayalanku kembali pada Diana yang sedari awal aku suka.
Drrrrng… hanphoneku berdering, ada nama Diana disana. Kubuka dengan perlahan.
‘Apa aku pantas untuk dipersunting olehmu?’